Kamis, 05 November 2015

Agama sebagai Penyelamatkah??


Pernahkah kalian bertanya kepada diri anda sendiri atau orang tua, kenapa sih saya beragama semisal Islam, atau Khatolik, atau Hindhu, atau Kong Hu Chu, dll? Kenapa sih saya ketika lahir tiba-tiba langsung beragama??
Pasti jawaban dari kalian yang paling umum adalah karena sejak lahir, orang tua saya telah memasukkan saya ke agama yang mereka anut. Atau kalian berpikir bahwa agama yang saya anut adalah yang terbaik dari semuanya. Atau takdir, sudah direncanakan, diatur, diberi jalan dari Tuhan dan lain sebagainya. Dan jawaban kalian pribadi tidak ada  yang salah.
Saya pun demikian, ketika SMA awal, saya pernah berpikir kenapa aku memeluk agama Khatolik? Kenapa namaku terdapat nama “Christ” sebagai nama baptis? Kenapa aku harus ke gereja setiap hari Minggu, berdoa dengan cara mengatupkan tangan, bernyanyi, memberi persembahan, menerima komuni, dll. Kenapa aku dipilihkan agama Khatolik oleh kedua orang tuaku??
Suatu ketika, aku pernah bertanya seperti itu kepada ayahku dan beliau menjawab seperti ini, “Kenapa kita memeluk agama Khatolik karena agama adalah sebuah pilihan. Menurut ayah sendiri agama Khatolik adalah yang terbaik bagi diri ayah pribadi. Saat kamu kecil, kamu kan belum bisa memilih agamamu sendiri maka dari itu ayah dan ibu mengarahkanmu ke agama yang ayah ibu pilih terlebih dahulu. Ketika kamu sudah besar nanti kamu bisa memilih, agama apa yang terbaik bagi dirimu pribadi. Ayah dan ibu demokratis, tidak akan melarang kamu pindah agama asalkan kamu akan lebih tekun berbakti dan berbuat baik dari sebelumnya.”
well, menurut saya itu jawaban paling demokratis yang pernah saya dengar.

Jadi saya berpikir, kenapa agama-agama yang saya kenal para pengikutnya selalu mempromosikan agamanya adalah yang terbaik, yang berasal dari Tuhannya sendiri. Agama lain seperti tidak ada apa-apanya, malah dianggap sebagai jalan yang sesat dan salah. Setelah mempromosikan agamanya, orang-orang itu mengajak kita untuk masuk dalam agamanya agar selamat dari neraka. Kok bisa???
Ambil contoh saja Gubernur DKI Jakarta saat ini, Bapak Ahok. Beliau dihujat sana-sini oleh ormas atau elemen masyarakat garis keras yang tidak setuju Jakarta dipimpin oleh orang yang bukan berasal dari agama mereka. Padahal beliau memajukan Jakarta tidak main-main, ia dengan tegas melawan korupsi dan menertibkan permasalahan kota Jakarta yang terlanjur semrawut dengan baik. Orang seperti hanya melihat beliau dari sudut pandang satu, faktor agamanya saja, bukan dari faktor kinerjanya. Bahkan pernah ada tokoh yang berkata seperti ini, “Andai saja Ahok masuk Islam” atau bahkan lebih ekstrim lagi (dari orator ormas garis keras), “Kami lebih baik dipimpin oleh koruptor tetapi dari agama kami daripada oleh Ahok.”
Tetapi sepertinya ada unsur politis dibalik penolakan Ahok sebagai gubernur, tetapi saya tidak ingin membahasnya 

 
Analoginya seperti “kamu masuk agamaku kamu bakal selamat walau sebejat-bejatnya kamu, daripada kamu masuk agama lain kamu ga bakal selamat walau sebaik-baiknya kamu.” 
pemikiran kaum 2D ( IQnya cuma 2 digit)

Pusing...Pusing
  
Saya tekankan sekali lagi, yang bisa menentukan kamu masuk surga atau neraka itu TUHAN, bukan agama yang kamu anut. Dan Tuhan menentukan kamu layak masuk dalam hadirat-Nya itu dari perbuatan serta doa-doamu. Entah agamamu apa, tetapi dari setiap agama saya yakin-seyakin yakinnya bahwa agama apapun memerintahkan untuk saling berbuat baik, cinta kasih terhadap sesama dan tidak saling membenci satu sama lain. Bersyukurlah sebanyak-banyaknya kepada Tuhan melalui doa yang kamu panjatkan. Bertobatlah segera jika kamu melakukan kesalahan yang melukai orang lain serta dirimu melalui doa dan perbuatan baik. Niscaya Tuhan sebagai Empunya alam semesta dan segala isinya melihat perbuatan baikmu dan mengizinkanmu kembali kepada-Nya dari peziarahan hidup di dunia. Bukankah seorang pencipta ingin ciptaannya kembali dengan selamat semuanya??