Sabtu, 12 Desember 2015

Mengunjungi School of Life, Panti Cacat Mental serta Yatim Piatu


Jam menunjukkan pukul 18.00, para penghuni panti segera bergegas ke ruang utama untuk makan malam. Mereka harus segera cepat karena jadwal mereka padat serta ketat. Lalu para staf panti segera membagikan makanan serta minuman ke para penghuni panti. Begitulah gambaran besar kegiatan yang dilakukan oleh para penghuni panti Yayasan School of Life pada hari Jumat (18/09) di Jalan Cakrawala Utara 3/34. Panti tersebut bisa dibilang panti asuhan juga panti cacat mental fisik. Karena Yayasan School of Life menerima orang-orang yang ditolak di berbagai tempat, yang didiagnosa tidak memungkinkan untuk sembuh, dan anak-anak yang tidak diinginkan. Mereka menerima dengan tangan terbuka orang-orang yang menurut pandangan masyarakat adalah orang-orang terbuang dan dilupakan.
            Yayasan School of Life mempunyai dua tempat, satu untuk para penghuni panti yang campuran dan satu lagi khusus untuk penghuni panti yang masih anak-anak. Menarik sekali dari cerita salah satu staf, bahwa panti yang khusus untuk anak-anak adalah anak-anak tersebut merupakan anak hasil hubungan gelap atau anak yang tidak diinginkan. Sejak bayi mereka telah dibuang di suatu tempat atau dititipkan di panti tersebut secara tiba-tiba oleh orang tuanya. Lalu oleh yayasan, anak-anak tersebut dirawat, dijaga, serta disekolahkan hingga jenjang yang tinggi agar kelak bisa menjadi anak yang berhasil.


Ketika menyuapi salah satu penghuni panti
gambar: dok.pribadi

Kemudian untuk panti yang utama, para penghuni pantinya adalah campuran, laki-laki dan perempuan. Ada yang berusia termuda 9 tahun dan yang tertua sekitar 55 tahun. Ada yang dulu pemakai narkoba, depresi akut, cacat kakinya, berperilaku agresif, bermacam-macam. Mereka memiliki ke”spesial”annya sendiri-sendiri menurut salah satu staf. Tentu cara perlakuannya juga berbeda-beda. Contohnya saat waktu makan malam, ada salah satu penghuni panti yang tidak serta ikut makan tetapi berdiri mematung di pojok ruangan, oleh staf ia memang harus disuapi dengan sabar karena jika dibiarkan dia bisa berdiri sampai 2-3 hari. Banyak sekali keunikan-keunikan yang dilakukan oleh para penghuni panti, dan para staf harus melayani dengan ekstra keras dan penuh kesabaran. Mereka berlandaskan semangat penuh kasih serta melayani sesama. Mereka rela meninggalkan keluarga, pekerjaan, serta apa yang mereka mimpikan untuk panggilan hati melayani orang-orang yang dilupakan. Sungguh suatu teladan yang patut dicontoh bagi kita untuk melayani sesama dengan sepenuh hati dan tanpa pilih kasih. 

Keyakinanmu yang Kaya Gimana?


Suatu pertanyaan muncul dalam pikiran, apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya… atau mungkin kita hanya… takut pada neraka dan inginkan surga saja?? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya? Malah mirip suatu lagu dari dekade 2000-an. Yaa.. kita akan membahas esensi dari lagu tersebut, arti sesungguhnya dari lirik yang ada.

Tiap-tiap individu memiliki keyakinan masing-masing, betul?? Keyakinan berupa seorang juru selamat dengan nama yang berbeda-beda atau keyakinan berupa ketiadaan yang mahakuasa itu sendiri (anda mengenalnya dengan sebutan atheis). Lalu keyakinan tentang adanya surga dan neraka atau karma/hukum sebab akibat/tabur tuai dan lain sebagainya. Keyakinan yang sifatnya pribadi apapun bentuknya ini, pernahkah kalian tilik dasar dari keyakinan tersebut? Keyakinan yang membabi butakah, yang tanpa dasar serta tak punya argument? Keyakinan dengan dasar ketakutan atau berdasarkan mendapat imbalan?

Dalai Lama always wise..

Keyakinan yang tanpa dasar biasanya karena tindakan “cuci otak”, di mana keluarga atau lingkungan atau pemerintah berperan dalam keyakinan itu. Seperti contoh saat kita sekolah apalagi yang berafiliasi dengan agama tertentu, maka suka engga suka pelajaran agama, doktrin-doktrin agama tersebut akan disumpalkan. Lalu keyakinan berdasar rasa takut, guru-guru agama biasanya menggunakan neraka dan dosa sebagai kata kunci, semua tindakan yang tidak sesuai untuk dilakukan selalu diberi imbuhan “masuk neraka” atau “berdosa”. Yang lebih keren lagi sekarang merambah ke dunia media, contoh sinetron berkedok agama tapi isinya mistis, seperti orang berbuat jahat terus tubuhnya saat mati dipenuhi belatung, atau mayatnya mengalami hal-hal aneh yang menjijikan.

Ati-ati kena azab lhoo..

Lalu untuk keyakinan berdasar iming-iming, semakin menunjukkan betapa berpengaruhnya pikiran kapitalis dalam benak masyarakat. Karena dalam dunia kapitalis, semua tindakan mengharapkan imbalan (reward), begitu juga keyakinan di mana keyakinan ada harganya, seseorang berbuat baik demi berharap pada “pahala” yang berbuntut surga. Lhaa yang sulit, keyakinan berdasar pemahaman. Keyakinan tersebut dapat diobrak-abrik diterjang argumentasi, pencarian akan pemahaman ini bisa menghancurkan keyakinan yang sekarang dan memunculkan keyakinan baru atauu.. 
bisa memperkokoh keyakinan kini dan semakin lama diolah oleh waktu akan semakin matang pula keyakinan itu.. apapun keyakinan yang dianutnya…

Seperti inilah esensi dari keyakinan berdasar pemahaman
Dibaca pelan-pelan agar paham dan mudeng ↓
"Pemahaman akan mendatangkan keyakinan, di mana pemahaman tersebut menjadi inti dari pencarian suatu keyakinan."
Have a nice day..

Menyikapi Perbedaan Keyakinan yang Selalu Ada


Bila kita membicarakan perbedaan, pasti takkan ada habisnya. Perbedaan selalu bisa membuat kita gampang terjebak dalam perselisihan, pertengkaran, pergesekan, kesalahpahaman, hingga permusuhan dan kekerasan. Gak heran jika kita lebih suka untuk menghabiskan seluruh energi, pikiran, dan waktu dalam diskusi-diskusi untuk sebuah perbedaan yang kecil dan sederhana hanya demi hasil kepuasan hati yang sedikit. Apalagi jika perbedaan tersebut menyangkut perbedaan keyakinan. Ketika keyakinan seseorang beradu dengan keyakinan yang lain, tidak ada kata “mengalah” atau “menerima”. Semua daya dikeluarkan, agar kita mendapat pengakuan dan orang lain menerima bahwa keyakinan kita lebih baik darinya. Ada suatu arogansi dan pride yang terselip dalam perjuangan membela keyakinan kita, entah dalam suatu diskusi atau pembicaraan-pembicaraan. Pahamilah bahwa ketenangan hati setelah menang perdebatan dalam membela keyakinan itu tidak tercipta begitu saja saat semua orang mendukung kita dan menganggukan kepala tanda setuju. Perlu kita sadari bahwa manusia pasti berbeda baik dalam pikiran, alasan, dan pendapat yang dimiliki. Termasuk dalam isi kepala, maka dari itu manusia mempunyai keunikannya masing-masing. Mungkin bagi orang tidak waras kitalah yang dianggap tidak waras, atau menurut teman, ortu, saudara, orang lain, kitalah yang dianggap tidak mengerti dengan maksud pemahamannya.

Mulailah kita mencoba untuk belajar memahami perbedaan keyakinan, dengan menerima, memahami serta menghargai. Kita juga harus menghormati ketidaksetujuan orang lain. Ketidakmampuan kita menerima perbedaan membuat perlakuan kita terhadap orang lain menjadi sangat berbeda. Lebih buruknya lagi jika kita juga menyeret orang lain untuk ikut serta membenci orang yang tidak kita sukai, yang berbeda keyakinan dengan kita.


Keharmonisan tercapai saat kita bisa sepakat saling berjabat tangan untuk "tidak sepakat" (kita setuju bahwa tidak ada persamaan di antara kita dan kita saling menghormati hal tersebut), seperti dalam istilah “win-win or no deal”. Kedamaian hati ada kala kita tidak saling memaksakan kehendak. Marilah memahami perbedaan dengan mencoba menyelami perbedaan dunia orang lain, melihat dari sudut pandang berbeda. Perbedaan tentu seperti sebuah puzzle yang jika digabungkan akan membentuk suatu gambar yang utuh dan indah bukan.


Kamis, 05 November 2015

Agama sebagai Penyelamatkah??


Pernahkah kalian bertanya kepada diri anda sendiri atau orang tua, kenapa sih saya beragama semisal Islam, atau Khatolik, atau Hindhu, atau Kong Hu Chu, dll? Kenapa sih saya ketika lahir tiba-tiba langsung beragama??
Pasti jawaban dari kalian yang paling umum adalah karena sejak lahir, orang tua saya telah memasukkan saya ke agama yang mereka anut. Atau kalian berpikir bahwa agama yang saya anut adalah yang terbaik dari semuanya. Atau takdir, sudah direncanakan, diatur, diberi jalan dari Tuhan dan lain sebagainya. Dan jawaban kalian pribadi tidak ada  yang salah.
Saya pun demikian, ketika SMA awal, saya pernah berpikir kenapa aku memeluk agama Khatolik? Kenapa namaku terdapat nama “Christ” sebagai nama baptis? Kenapa aku harus ke gereja setiap hari Minggu, berdoa dengan cara mengatupkan tangan, bernyanyi, memberi persembahan, menerima komuni, dll. Kenapa aku dipilihkan agama Khatolik oleh kedua orang tuaku??
Suatu ketika, aku pernah bertanya seperti itu kepada ayahku dan beliau menjawab seperti ini, “Kenapa kita memeluk agama Khatolik karena agama adalah sebuah pilihan. Menurut ayah sendiri agama Khatolik adalah yang terbaik bagi diri ayah pribadi. Saat kamu kecil, kamu kan belum bisa memilih agamamu sendiri maka dari itu ayah dan ibu mengarahkanmu ke agama yang ayah ibu pilih terlebih dahulu. Ketika kamu sudah besar nanti kamu bisa memilih, agama apa yang terbaik bagi dirimu pribadi. Ayah dan ibu demokratis, tidak akan melarang kamu pindah agama asalkan kamu akan lebih tekun berbakti dan berbuat baik dari sebelumnya.”
well, menurut saya itu jawaban paling demokratis yang pernah saya dengar.

Jadi saya berpikir, kenapa agama-agama yang saya kenal para pengikutnya selalu mempromosikan agamanya adalah yang terbaik, yang berasal dari Tuhannya sendiri. Agama lain seperti tidak ada apa-apanya, malah dianggap sebagai jalan yang sesat dan salah. Setelah mempromosikan agamanya, orang-orang itu mengajak kita untuk masuk dalam agamanya agar selamat dari neraka. Kok bisa???
Ambil contoh saja Gubernur DKI Jakarta saat ini, Bapak Ahok. Beliau dihujat sana-sini oleh ormas atau elemen masyarakat garis keras yang tidak setuju Jakarta dipimpin oleh orang yang bukan berasal dari agama mereka. Padahal beliau memajukan Jakarta tidak main-main, ia dengan tegas melawan korupsi dan menertibkan permasalahan kota Jakarta yang terlanjur semrawut dengan baik. Orang seperti hanya melihat beliau dari sudut pandang satu, faktor agamanya saja, bukan dari faktor kinerjanya. Bahkan pernah ada tokoh yang berkata seperti ini, “Andai saja Ahok masuk Islam” atau bahkan lebih ekstrim lagi (dari orator ormas garis keras), “Kami lebih baik dipimpin oleh koruptor tetapi dari agama kami daripada oleh Ahok.”
Tetapi sepertinya ada unsur politis dibalik penolakan Ahok sebagai gubernur, tetapi saya tidak ingin membahasnya 

 
Analoginya seperti “kamu masuk agamaku kamu bakal selamat walau sebejat-bejatnya kamu, daripada kamu masuk agama lain kamu ga bakal selamat walau sebaik-baiknya kamu.” 
pemikiran kaum 2D ( IQnya cuma 2 digit)

Pusing...Pusing
  
Saya tekankan sekali lagi, yang bisa menentukan kamu masuk surga atau neraka itu TUHAN, bukan agama yang kamu anut. Dan Tuhan menentukan kamu layak masuk dalam hadirat-Nya itu dari perbuatan serta doa-doamu. Entah agamamu apa, tetapi dari setiap agama saya yakin-seyakin yakinnya bahwa agama apapun memerintahkan untuk saling berbuat baik, cinta kasih terhadap sesama dan tidak saling membenci satu sama lain. Bersyukurlah sebanyak-banyaknya kepada Tuhan melalui doa yang kamu panjatkan. Bertobatlah segera jika kamu melakukan kesalahan yang melukai orang lain serta dirimu melalui doa dan perbuatan baik. Niscaya Tuhan sebagai Empunya alam semesta dan segala isinya melihat perbuatan baikmu dan mengizinkanmu kembali kepada-Nya dari peziarahan hidup di dunia. Bukankah seorang pencipta ingin ciptaannya kembali dengan selamat semuanya??


Jumat, 30 Oktober 2015

Sugeng Rawuh

Selamat Datang dalam Blogku

Welcome to my blog

Perkenalkan nama saya Christ Prasidya Dhaneswara
dengan NIM 15.E1.0118, kelas 02
sekarang menempuh pendidikan di UNIKA Soegijapranata Semarang, Jurusan Psikologi

Saya membuat blog ini sebagai pemenuhan tugas dan nilai mata kuliah religiusitas dari dosen pembimbing 
Bapak Gregorius Daru Wijoyoko

Dari tulisan-tulisan di dalam blog ini saya berharap dapat menambah informasi bagi para pembaca, serta membuka pikiran kita akan apa yang ada dan terjadi di dunia ini dari perspektif religiusitas

Saya juga menekankan agar pikiran para pembaca dapat terbuka dalam membaca karena pikiran itu seperti jendela
"Semakin terbuka jendela itu, semakin luas pemandangan yang didapat"

Saya juga seorang penulis yang masih belajar, jika ada saran serta kritik dari pembaca sekalian, saya sangat menghargainya

So, happy reading guys
and be a positive thinker