Pernahkah kalian bertanya kepada diri anda sendiri
atau orang tua, kenapa sih saya
beragama semisal Islam, atau Khatolik, atau Hindhu, atau Kong Hu Chu, dll?
Kenapa sih saya ketika lahir
tiba-tiba langsung beragama??
Pasti jawaban dari
kalian yang paling umum adalah karena sejak lahir, orang tua saya telah memasukkan
saya ke agama yang mereka anut. Atau kalian berpikir bahwa agama yang saya anut
adalah yang terbaik dari semuanya. Atau takdir, sudah direncanakan, diatur,
diberi jalan dari Tuhan dan lain sebagainya. Dan jawaban kalian pribadi tidak
ada yang salah.
Saya pun demikian, ketika SMA awal, saya pernah
berpikir kenapa aku memeluk agama Khatolik? Kenapa namaku terdapat nama
“Christ” sebagai nama baptis? Kenapa aku harus ke gereja setiap hari Minggu,
berdoa dengan cara mengatupkan tangan, bernyanyi, memberi persembahan, menerima
komuni, dll. Kenapa aku dipilihkan agama Khatolik oleh kedua orang tuaku??
Suatu ketika, aku pernah bertanya seperti itu kepada
ayahku dan beliau menjawab seperti ini, “Kenapa kita memeluk agama Khatolik
karena agama adalah sebuah pilihan. Menurut ayah sendiri agama Khatolik adalah
yang terbaik bagi diri ayah pribadi. Saat kamu kecil, kamu kan belum bisa
memilih agamamu sendiri maka dari itu ayah dan ibu mengarahkanmu ke agama yang
ayah ibu pilih terlebih dahulu. Ketika kamu sudah besar nanti kamu bisa memilih,
agama apa yang terbaik bagi dirimu pribadi. Ayah dan ibu demokratis, tidak akan
melarang kamu pindah agama asalkan kamu akan lebih tekun berbakti dan berbuat
baik dari sebelumnya.”
well, menurut saya itu jawaban paling demokratis yang pernah saya dengar.
Jadi saya berpikir, kenapa agama-agama yang saya
kenal para pengikutnya selalu mempromosikan agamanya adalah yang terbaik, yang
berasal dari Tuhannya sendiri. Agama lain seperti tidak ada apa-apanya, malah
dianggap sebagai jalan yang sesat dan salah. Setelah mempromosikan agamanya,
orang-orang itu mengajak kita untuk masuk dalam agamanya agar selamat dari
neraka. Kok bisa???
Ambil contoh saja Gubernur DKI Jakarta saat ini, Bapak
Ahok. Beliau dihujat sana-sini oleh ormas atau elemen masyarakat garis keras
yang tidak setuju Jakarta dipimpin oleh orang yang bukan berasal dari agama
mereka. Padahal beliau memajukan Jakarta tidak main-main, ia dengan tegas
melawan korupsi dan menertibkan permasalahan kota Jakarta yang terlanjur
semrawut dengan baik. Orang seperti hanya melihat beliau dari sudut pandang
satu, faktor agamanya saja, bukan dari faktor kinerjanya. Bahkan pernah ada
tokoh yang berkata seperti ini, “Andai saja Ahok masuk Islam” atau bahkan lebih
ekstrim lagi (dari orator ormas garis keras), “Kami lebih baik dipimpin oleh
koruptor tetapi dari agama kami daripada oleh Ahok.”
Tetapi sepertinya ada unsur politis dibalik penolakan Ahok sebagai
gubernur, tetapi saya tidak ingin membahasnya
Analoginya seperti “kamu masuk agamaku kamu bakal
selamat walau sebejat-bejatnya kamu, daripada kamu masuk agama lain kamu ga
bakal selamat walau sebaik-baiknya kamu.”
pemikiran kaum 2D ( IQnya cuma 2 digit)
Pusing...Pusing
Saya tekankan sekali lagi, yang bisa menentukan kamu
masuk surga atau neraka itu TUHAN, bukan agama yang kamu anut. Dan Tuhan
menentukan kamu layak masuk dalam hadirat-Nya itu dari perbuatan serta
doa-doamu. Entah agamamu apa, tetapi dari setiap agama saya yakin-seyakin
yakinnya bahwa agama apapun memerintahkan untuk saling berbuat baik, cinta
kasih terhadap sesama dan tidak saling membenci satu sama lain. Bersyukurlah
sebanyak-banyaknya kepada Tuhan melalui doa yang kamu panjatkan. Bertobatlah
segera jika kamu melakukan kesalahan yang melukai orang lain serta dirimu
melalui doa dan perbuatan baik. Niscaya Tuhan sebagai Empunya alam semesta dan
segala isinya melihat perbuatan baikmu dan mengizinkanmu kembali kepada-Nya
dari peziarahan hidup di dunia. Bukankah seorang pencipta ingin ciptaannya
kembali dengan selamat semuanya??