Suatu pertanyaan muncul dalam
pikiran, apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya… atau mungkin
kita hanya… takut pada neraka dan inginkan surga saja?? Jika surga dan neraka
tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya? Malah mirip suatu lagu dari
dekade 2000-an. Yaa.. kita akan membahas esensi dari lagu tersebut, arti
sesungguhnya dari lirik yang ada.
Tiap-tiap individu memiliki
keyakinan masing-masing, betul?? Keyakinan berupa seorang juru selamat dengan
nama yang berbeda-beda atau keyakinan berupa ketiadaan yang mahakuasa itu
sendiri (anda mengenalnya dengan sebutan atheis). Lalu keyakinan tentang adanya
surga dan neraka atau karma/hukum sebab akibat/tabur tuai dan lain sebagainya.
Keyakinan yang sifatnya pribadi apapun bentuknya ini, pernahkah kalian tilik
dasar dari keyakinan tersebut? Keyakinan yang membabi butakah, yang tanpa dasar
serta tak punya argument? Keyakinan dengan dasar ketakutan atau berdasarkan
mendapat imbalan?
Dalai Lama always wise..
Keyakinan yang tanpa dasar biasanya
karena tindakan “cuci otak”, di mana keluarga atau lingkungan atau pemerintah
berperan dalam keyakinan itu. Seperti contoh saat kita sekolah apalagi yang
berafiliasi dengan agama tertentu, maka suka engga suka pelajaran agama, doktrin-doktrin agama tersebut akan
disumpalkan. Lalu keyakinan berdasar rasa takut, guru-guru agama biasanya
menggunakan neraka dan dosa sebagai kata kunci, semua tindakan yang tidak
sesuai untuk dilakukan selalu diberi imbuhan “masuk neraka” atau “berdosa”.
Yang lebih keren lagi sekarang merambah ke dunia media, contoh sinetron
berkedok agama tapi isinya mistis, seperti orang berbuat jahat terus tubuhnya
saat mati dipenuhi belatung, atau mayatnya mengalami hal-hal aneh yang
menjijikan.
Ati-ati kena azab lhoo..
Lalu untuk keyakinan berdasar iming-iming,
semakin menunjukkan betapa berpengaruhnya pikiran kapitalis dalam benak
masyarakat. Karena dalam dunia kapitalis, semua tindakan mengharapkan imbalan (reward), begitu juga keyakinan di mana
keyakinan ada harganya, seseorang berbuat baik demi berharap pada “pahala” yang
berbuntut surga. Lhaa yang sulit, keyakinan berdasar pemahaman. Keyakinan
tersebut dapat diobrak-abrik diterjang argumentasi, pencarian akan pemahaman
ini bisa menghancurkan keyakinan yang sekarang dan memunculkan keyakinan baru
atauu..
bisa memperkokoh keyakinan kini dan semakin lama diolah oleh waktu akan
semakin matang pula keyakinan itu.. apapun keyakinan yang dianutnya…
Seperti inilah esensi dari keyakinan berdasar pemahaman
Dibaca pelan-pelan agar paham dan
mudeng ↓
"Pemahaman akan mendatangkan keyakinan, di mana pemahaman tersebut menjadi inti dari pencarian suatu keyakinan."



Yakinlah akan apa yang memang dalam diri anda bukan pengaruh dari luar. Good article;)
BalasHapusartikel yang bagus, semoga bermanfaat ya :)
BalasHapus